Penyakit non-infeksi atau yang lebih dikenal dengan penyakit kronik, merupakan penyakit yang tidak ditularkan dari satu individu ke individu lainnya. Menurut World Health Organization (WHO), penyakit non-infeksi mempunyai durasi yang panjang dan umumnya berkembang dengan lambat. Beberapa contoh penyakit non-infeksi antara lain: asma, Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK), kanker, Diabetes Mellitus, hipertiroid, hipertensi, penyakit sendi atau rematik, jantung coroner, gagal jantung, stroke, gagal ginjal kronik, dan batu ginjal. Prevalensi penyakit non-infeksi meningkat seiring dengan adanya transisi epidemiologi yang meningkatkan faktor resiko penyakit tersebut. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Indonesia selama 2 dekade dari tahun 1980- 2001, menunjukkan proporsi mortalitas akibat penyakit infeksi menurun secara signifikan namun proporsi mortalitas akibat penyakit non-infeksi meningkat 2-3 kali lipat.

Peningkatan kejadian dan mortalitas penyakit non-infeksi berhubungan erat dengan peningkatan faktor risiko berupa perubahan gaya hidup individu. Faktor risiko utama yang berkontribusi terhadap peningkatan penyakit non-infeksi antara lain: penggunaan tembakau, konsumsi alkohol berlebih, diet yang tidak sehat, dan kurangnya aktivitas fisik individu. Hasil Riskesdas tahun 2013 memperlihatkan beberapa faktor risiko penyakit non-infeksi antara lain: penggunaan tembakau, proporsi baik perokok maupun pengunyah tembakau adalah 36,3%, penurunan aktifitas fisik kurang aktif seperti olah raga memiliki proporsi 26.1%, pola diet yang kurang tepat seperti konsumsi makanan/minuman manis ≥1 kali perhari sebesar 53.1%, konsumsi makanan berlemak, berkolesterol dan makanan gorengan >1 kali per hari sebesar 40.7%, konsumsi makanan yang dibakar sebesar 4.4%, konsumsi makanan yang asin sebesar 26.2%, konsumsi makanan yang manis sebesar 53.2%, dan konsumsi makanan berbahan bumbu penyedap sebesar 77.3%.

Strategi pencegahan dan penanggulangan faktor risiko menurut Kemenkes tahun 2012 harus dilakukan secara terpadu, efektif, dan efisien dengan melibatkan pemerintah, organisasi masyarakat, serta masyarakat. Salah satu strategi tersebut adalah dengan meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan deteksi dini dan penanggulangan faktor risiko penyakit non-infeksi yang berkualitas. Strategi pencegahan dan penanggulangan faktor risiko penyakit non-infeksi sejalan dengan visi Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) yang turut berkontribusi bagi pembangunan kesehatan pada tahun 2030. Selain itu, strategi tersebut juga sejalan dengan misi Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pengabdian masyarakat yang bermutu dan relevan dengan tantangan perkembangan pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, dalam rangka meningkatkan kewaspadaan diri masyarakat terhadap penyakit non-infeksi di daerah Depok, Departemen Dasar Keperawatan dan Keperawatan Dasar (DKKD) FIK UI mengadakan kegiatan Pengabdian Masyarakat (Pengmas) pada hari Minggu, 11 Oktober 2015, bertempat di Boulevard UI (depan gedung Pendidikan dan Laboratorium FIK UI).

Kegiatan Pengmas DKKD FIK UI dilakukan dengan tujuan untuk memfasilitasi aktifitas fisik yang sehat, memfasilitasi pemeriksaan dan skrining dini terhadap penyakit non-infeksi, serta meningkatkan pengetahuan masyarakat Depok mengenai penyakit non-infeksi. Tujuan kegiatan tersebut dirangkai dalam beberapa bentuk kegiatan yaitu senam jantung; pemeriksaan inner scan untuk mengetahui berat badan, persentase kadar air, massa otot, massa tulang, dan persentase lemak tubuh; pemeriksaan darah untuk mengetahui nilai gula darah sewaktu (GDS), kolesterol total dan asam urat; pemeriksaan kepadatan tulang (densitometry) untuk mendeteksi adanya osteoporosis; serta pemberian pendidikan kesehatan dan konsultasi mengenai penyakit non-infeksi hipertensi, diabetes mellitus, osteoporosis, dan kanker payudara. Kegiatan Pengmas dilaksanakan oleh seluruh staf departemen DKKD FIK UI turut melibatkan mahasiswa Program Sarjana dan Magister FIK UI sebanyak 17 orang. Selain melibatkan mahasiswa, kegiatan ini juga bekerja sama dengan Produgen terutama dalam pemeriksaan kepadatan tulang serta pemberian edukasi mengenai osteoporosis. Peserta yang mengikuti kegiatan Pengmas DKKD yaitu sebanyak 116 orang dan merupakan warga Depok yang sedang melakukan olahraga serta berkegiatan di area kampus Universitas Indonesia.

id_ID