Di balik toga doktor yang dikenakan dalam momentum wisuda yang sama, tersimpan kisah perjuangan intelektual dan ketangguhan keluarga dari pasangan Edi Purnomo dan Zulhaini Sartika—yang akrab disapa Tika. Keduanya menuntaskan Program Doktor Ilmu Keperawatan di Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia dengan predikat summa cum laude. Edi meraih IPK sempurna 4.00 dan Tika 3.99. Namun lebih dari sekadar angka, capaian ini adalah simbol disiplin akademik tingkat tinggi, sinergi intelektual sebagai pasangan, serta komitmen pengabdian bagi profesi dan bangsa.
Keputusan melanjutkan studi doktoral bukan tanpa alasan strategis. Sebagai dosen di Poltekkes Kemenkes Mamuju, mereka melihat langsung urgensi peningkatan kualifikasi akademik. FIK UI dipilih bukan hanya karena reputasinya sebagai institusi keperawatan tertua dan terdepan di Indonesia, tetapi juga karena keduanya merupakan alumni S1 Keperawatan UI. Ada ikatan emosional, ada kepercayaan pada kualitas pembelajaran, dan ada keyakinan bahwa lingkungan akademik di Universitas Indonesia mampu membentuk kepakaran yang berdampak luas.
Perjalanan studi mereka diwarnai dinamika yang tidak sederhana. Tika lebih dahulu memulai melalui program matrikulasi, sebelum akhirnya satu angkatan doktoral bersama Edi. Di tengah proses tersebut, mereka menghadapi suka duka keluarga, transisi sistem perkuliahan daring dan luring, serta harus bolak-balik Depok–Jawa Tengah demi mendampingi orang tua dan anak-anak. Ketiga anak mereka menempuh pendidikan di lokasi berbeda—bahkan lintas pulau—menuntut kedewasaan dan kemandirian keluarga. Dalam situasi inilah ketangguhan personal dan manajemen waktu menjadi ujian nyata. Strategi “sinergi terjadwal” mereka terapkan: membagi blok waktu presisi untuk riset, keluarga, dan pemulihan energi, sekaligus menjadikan satu sama lain sebagai peer-reviewer paling kritis dan suportif.
Dari sisi keilmuan, kontribusi keduanya mencerminkan karakter kuat lulusan FIK UI: berbasis teori kokoh, metodologi presisi, dan relevansi kontekstual. Disertasi Tika mengembangkan Model Intervensi Keperawatan Jiwa SARTIKA bagi remaja di Lembaga Pembinaan Khusus Anak, dengan pendekatan komprehensif berbasis Teori Transisi Meleis dan Model Stres Adaptasi Stuart. Model ini tidak hanya menurunkan kecemasan, tetapi juga meningkatkan konsep diri, self-efficacy, dan resiliensi remaja—menghadirkan pendekatan humanis bagi kelompok yang kerap terabaikan dalam sistem layanan kesehatan.
Sementara itu, Edi mengembangkan Model Disaster Nursing Management Simulation (DNMS), sebuah model pelatihan kebencanaan berbasis simulasi yang terintegrasi bagi perawat, kader kesehatan, dan keluarga dalam menghadapi risiko gempa bumi. Model ini memperkuat pengetahuan, kesiapan, dan self-efficacy komunitas, sekaligus menegaskan peran perawat sebagai garda terdepan dalam pengurangan risiko bencana. Kedua riset tersebut memperlihatkan bagaimana pendidikan doktoral di FIK UI tidak berhenti pada tataran konseptual, tetapi menjadi solusi nyata bagi persoalan strategis bangsa—dari kesehatan jiwa remaja hingga ketangguhan komunitas terhadap bencana.
Kisah Edi dan Tika adalah refleksi kuat FIK UI sebagai pusat keunggulan yang melahirkan perawat doktor berjiwa pemimpin, peneliti, dan agen transformasi. Di FIK UI, gelar doktor bukan sekadar capaian akademik, melainkan proses pembentukan integritas ilmiah, kepemimpinan berbasis bukti, dan komitmen pengabdian jangka panjang. Perjalanan mereka membuktikan bahwa ketika ekosistem akademik yang unggul bertemu dengan visi keluarga yang kokoh, lahirlah bukan hanya dua doktor dengan predikat tertinggi, tetapi dua katalisator perubahan yang siap memperkuat sistem kesehatan Indonesia.