Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) menekankan pentingnya peran strategis perawat dan bidan sebagai garda terdepan dalam pengendalian konsumsi tembakau di Indonesia. Dalam sesi ilmiah bersama Dr. Maria Duaso dari King’s College London, terungkap bahwa Indonesia saat ini menghadapi tantangan kesehatan yang sangat serius dengan jumlah perokok dewasa mencapai lebih dari 74 juta orang. Tingginya prevalensi merokok, terutama pada laki-laki dewasa yang mencapai 56% dan tren merokok pada remaja usia 10–14 tahun sebesar 15,3%, telah berdampak pada angka kematian yang sangat tinggi, yakni mencapai 295.043 jiwa setiap tahunnya. Selain beban kesehatan, kebiasaan merokok ini juga memicu kerugian ekonomi nasional yang sangat masif dengan estimasi biaya tahunan mencapai lebih dari 288 triliun rupiah akibat penyakit kronis dan penurunan produktivitas.
Guna menekan angka tersebut, perawat dan bidan dinilai memiliki posisi yang paling ideal untuk memimpin intervensi penghentian merokok karena intensitas interaksi mereka dengan pasien di berbagai tatanan layanan kesehatan. Dr. Maria Duaso menegaskan bahwa penggunaan metode berbasis bukti seperti model “5As” (Ask, Advise, Assess, Assist, Arrange) dapat menjadi alat yang sangat efektif bagi tenaga kesehatan untuk membantu pasien berhenti merokok. Jika saja separuh dari jumlah perawat di seluruh dunia mampu membantu satu pasien saja setiap bulan untuk berhenti merokok, maka akan ada lebih dari 12 juta orang yang berhasil mengatasi kecanduan mereka setiap tahunnya. Potensi besar ini menjadikan profesi keperawatan sebagai agen perubahan kunci dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan mencapai target pembangunan berkelanjutan terkait penyakit tidak menular.
Namun demikian, optimalisasi peran perawat dalam pengendalian tembakau masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan waktu dalam pelayanan klinis, kurangnya pelatihan khusus, serta rendahnya kepercayaan diri tenaga kesehatan dalam memberikan intervensi. Selain itu, perilaku merokok di kalangan tenaga kesehatan sendiri masih menjadi hambatan yang perlu diatasi. Menanggapi hal ini, FIK UI berkomitmen untuk terus mendorong penguatan kurikulum pendidikan keperawatan dan pengembangan sistem pendukung di rumah sakit, termasuk jalur rujukan digital dan pelatihan berkelanjutan. Dengan investasi yang tepat pada edukasi dan dukungan sistem, keterlibatan aktif perawat diyakini akan memberikan dampak signifikan dalam menurunkan angka kematian dini dan mengatasi ketimpangan kesehatan akibat tembakau di Indonesia. Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Humas Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat.