Membangun Benteng Psikologis di Desa Mendala: Kala Kolaborasi Global Menyentuh Akar Rumput Brebes

Diposting di:

28 April 2026

Pemulihan sebuah wilayah pasca-bencana seringkali hanya diukur dari deretan bangunan yang kembali berdiri atau jalanan yang kembali mulus. Namun, di Desa Mendala Baru, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, sebuah misi besar sedang dijalankan untuk memperbaiki sesuatu yang tak kasatmata namun fundamental: kesehatan mental warga.

Selama lima hari, tepatnya 15 hingga 19 April 2026, suasana Desa Mendala tampak berbeda. Desa ini menjadi titik temu bagi para pakar, dosen, hingga mahasiswa lintas benua. Tim kolaborasi pengabdian masyarakat internasional yang terdiri dari Universitas Indonesia (UI), Universitas Diponegoro (UNDIP), Poltekkes Kemenkes Semarang, UNISSULA, hingga University of Manchester, kembali menginjakkan kaki di tanah Brebes.

Program ini merupakan kelanjutan strategis dari aksi nyata yang dimulai akhir tahun 2025. Jika sebelumnya tim UI fokus pada warga yang terdampak langsung secara materiil, tahun ini jangkauan diperluas. Dua RW di wilayah penyangga kini menjadi prioritas. Langkah ini diambil berdasarkan kesadaran bahwa warga di sekitar area bencana juga memikul beban psikologis yang tak ringan.

“Pemberdayaan kader adalah kunci utama dalam mitigasi kesehatan mental pasca-bencana,” tegas Prof. Dr. Budi Anna Keliat, S.Kp., M.App.Sc., pakar keperawatan jiwa sekaligus motor utama gerakan ini. Bagi Prof. Budi, bantuan fisik memiliki batas waktu, namun keterampilan warga adalah jaring pengaman abadi.

Dengan membekali kader lokal melalui keterampilan praktis seperti latihan relaksasi dan dukungan psikososial, tim ini sedang membangun kemandirian. “Kader yang terlatih mampu mendeteksi dini masalah psikologis sebelum berkembang menjadi trauma berat,” tambahnya di sela-sela kegiatan.

Uniknya, kegiatan yang didukung hibah World Class University (WCU) dari DPIS UI ini menjadi laboratorium hidup bagi para mahasiswa. Tidak tanggung-tanggung, 4 mahasiswa UI, 10 mahasiswa UNDIP, dan 3 alumni terjun langsung berinteraksi dengan warga.

Nuansa kolaborasi global semakin kental dengan hadirnya mahasiswa asing. Lima mahasiswa asal Timor Leste dari UKSW dan seorang mahasiswa asal Kenya dari Poltekkes Semarang turut serta dalam aksi kemanusiaan ini. Kehadiran mereka membawa pesan kuat: bahwa luka psikologis akibat bencana adalah isu kemanusiaan universal. Di Mendala, mereka tidak hanya berbagi empati, tetapi juga mempelajari pola mitigasi bencana berbasis komunitas yang menjadi keunggulan Indonesia.

Kehadiran para akademisi ini disambut hangat oleh Kepala Desa Mendala, Muhammad Basori. Ia mengapresiasi keberlanjutan program yang tidak bersifat “hit and run”. Baginya, memberikan bekal pengetahuan kepada masyarakat sekitar wilayah bencana adalah investasi berharga untuk membentuk masyarakat yang tangguh menghadapi tantangan di masa depan.

Melalui sinergi antara universitas kelas dunia dan kearifan lokal, Desa Mendala kini tak hanya sedang memulihkan diri, tetapi sedang bertransformasi menjadi desa yang siap secara mental—sebuah benteng psikologis yang dibangun dari kepedulian dan ilmu pengetahuan.

Bagikan artikel ini:

id_ID