Pengabdian Masyarakat

ILUNI FIK UI Gelar Nonton Bareng Film Dokumenter "Ininnawa: An Island Called": Angkat Kisah Perawat di Daerah Terpencil

Diposting di:

Add Your Heading Text Here

Perawat di daerah terpencil memainkan peran yang sangat penting dalam penyediaan layanan kesehatan dan pemeliharaan kesejahteraan masyarakat di daerah-daerah yang seringkali sulit dijangkau dan kurang terlayani oleh sistem kesehatan utama. Sayangnya, peran penting ini belum terekspos kepada khalayak ramai.

Menanggapi hal tersebut, Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) gelar nonton bersama sebuah film dokumenter terbaru karya Arfan Sabran yang mengguncang hati. Sosok “Rabiah dan Mimi,” membawa kita ke dalam dunia yang jarang terungkap di mana satu keluarga berjuang untuk meningkatkan layanan kesehatan di pulau-pulau terpencil yang tersebar di Laut Flores, Indonesia.

Film ini menggambarkan bagaimana Rabiah, seorang perawat beserta anaknya, Mimi yang bertahan dan bekerja jauh dari anak-anaknya dan suaminya, dengan mendedikasikan hidup mereka dalam menjalankan tugas mulia ini. Dengan penggambaran yang mengharukan dan menginspirasi, film ini mengajarkan kepada penonton tentang keberanian, keteguhan, dan arti sejati dari pengabdian untuk melayani masyarakat. “Rabiah dan Mimi” adalah kisah nyata yang mengingatkan kita akan pentingnya upaya individu dalam memperbaiki dunia di sekitar kita.

Selain pemutaran film, acara ini juga menghadirkan sesi talkshow untuk meningkatkan perhatian perawat pada pelayanan kesehatan (yankes) untuk masyarakat di wilayah Daerah Tertinggal Perbatasan dan Kepulauan (DTPK) bersama sang sutradara, yaitu Arfan Sabran, alumni Nusantara Sehat batch I, Ns. Nurul Jannah, S.Kep., serta perwakilan dari Kemenkes RI, Azi Samkani.

Arfan Sabran selaku sutradara menceritakan perjalanannya dalam pembuatan film dokumenter ini. “Setelah melalui proses yang tidak singkat, akhirnya film dokumenter  berjudul Ininnawa: An Island Calling ini dapat dirilis pada tahun ini. Film ini merupakan lanjutan dari film Suster Apung yang dirilis pada tahun 2006” ucapnya.

Arfan juga menjelaskan makna Ininnawa yang digunakan sebagai judul film. Dia mengungkapkan, Istilah ‘ininnawa’ diambil dari bahasa Bugis. “Ininnawa ini artinya ketulusan hati untuk melakukan hal yang baik dalam bahasa bugis,” ungkap Arfan.

Selain itu, Ns. Nurul Jannah, S.Kep sebagai Alumni Nusantara Sehat Batch 1 menceritakan perjuangannya saat menjadi perawat di daerah pedalaman Papua. “Ini merupakan salah satu pengalaman terbaik saya. Selama 2 tahun saya harus mampu memberikan pelayanan kesehatan di tengah hutan dengan segala keterbatasan yang ada.” ucap Nurul. “Secara tidak sadar skill saya menjadi meningkat pesat. Karena saya harus memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik, serta berperan sebagai perawat, bidan sekaligus dokter di waktu yang sama karena baik fasilitas maupun tenaga kesehatan disini sangat kurang. Jadi, jangan ragu untuk mengabdi di Daerah Tertinggal Perbatasan dan Kepulauan ” pungkas Nurul.

Hal ini juga di dukung oleh Azi Samkani, selaku ahli gizi Kemenkes RI yang bertugas dalam memberikan pelayanan kesehatan di Daerah Tertinggal Perbatasan dan Kepulauan (DTPK). “Saya sangat megapresiasi adanya film ini. Sebab, melalui film ini masyarakat menjadi lebih sadar  pentingnya peran perawat terutama di daerah terpencil. Harapannya, hal ini menjadi motivasi bagi kita untuk ikut serta dalam pemenuhan tenaga kesehatan melalui penugasan khusus diutamakan untuk mengisi Puskesmas yang memiliki kekosongan tenaga kesehatan di wilayah terpencil dan sangat terpencil.” Ucap Azi.

Melalui penayangan film ini tersirat betapa pentingnya untuk menghargai dan mendukung perawat di daerah terpencil, karena mereka berkontribusi besar dalam menjaga kesehatan masyarakat yang sering kali terabaikan oleh sistem kesehatan utama. Upaya untuk meningkatkan kondisi kerja, pelatihan, dan pengembangan karir bagi perawat di daerah terpencil juga penting untuk menjaga layanan kesehatan yang berkualitas di wilayah-wilayah ini.

Bagikan artikel ini:

id_ID