Serangan Jantung Mendadak Makin Marak: Pakar FIK UI Ingatkan Gejala Awal dan Panduan Penyelamatan "Golden Hour"

Diposting di:

29 September 2026

Kasus kematian akibat serangan jantung mendadak (sudden cardiac arrest) makin sering menghiasi ruang publik. Fenomena ini tidak lagi menjadi ancaman eksklusif lansia, tetapi mulai mengintai kelompok usia produktif. Kematian mendadak ini sebagian besar dipicu oleh keterlambatan penanganan serta minimnya pemahaman masyarakat dalam mengenali tanda bahaya awal sebelum jantung benar-benar berhenti berdetak.

Ketua Klaster Riset Acute and Critical Care Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI), Dr. Masfuri, S.Kp., M.N., menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap gejala yang kerap dianggap sepele. Menurut Masfuri, serangan jantung jarang datang tanpa peringatan. Gejala khas seperti nyeri dada kiri yang terasa tertindih beban berat, rasa terbakar di ulu hati yang menjalar hingga ke rahang atau bahu, keluar keringat dingin, serta sesak napas mendadak sering kali justru dikira hanya sekadar masuk angin, maag, atau akibat kelelahan kerja (burnout). Penundaan penanganan seperti mengoleskan minyak angin atau meminum obat maag di rumah menjadi celah berbahaya karena berburu dengan waktu.

Dalam dunia medis gawat darurat jantung, berlaku prinsip “time saving it’s live saving”—makin cepat sumbatan pembuluh darah dibuka, makin banyak jaringan otot jantung yang bisa diselamatkan. Masfuri menjelaskan bahwa golden hour atau periode emas penanganan medis terbaik berada pada rentang waktu 90 hingga 120 menit pertama sejak gejala muncul. Apabila menemukan kerabat atau rekan kerja yang menunjukkan gejala awal serangan jantung, langkah pertama yang wajib dilakukan adalah menghentikan seluruh aktivitasnya dan memposisikan korban duduk bersandar. Setelah itu, segera hubungi layanan ambulans gawat darurat atau bawa korban ke rumah sakit terdekat.

Apabila korban mendadak tidak sadarkan diri dan tidak bernapas normal, tindakan pertolongan pertama dari masyarakat awam memegang peranan penentu antara hidup dan mati. Masfuri mengimbau siapapun yang berada di dekat korban untuk segera melakukan resusitasi jantung paru (RJP) atau Hands-Only CPR, yaitu dengan menekan bagian tengah dada korban secara cepat dan konstan (100–120 kali per menit). Jika berada di tempat umum yang menyediakan alat pacu jantung otomatis (Automated External Defibrillator/AED), alat tersebut dapat langsung ditempelkan ke dada korban sesuai panduan suara yang tersedia. Keberanian masyarakat awam dalam melakukan RJP sederhana dalam menit-menit awal henti jantung terbukti mampu melipatgandakan peluang kelangsungan hidup korban hingga dua sampai tiga kali lipat sebelum pertolongan medis profesional tiba di lokasi.

Bagikan artikel ini:

id_ID