Universitas Indonesia (UI) terus memperkuat penetrasi dan rekognisi akademiknya di kancah global. Melalui Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK UI), universitas nomor satu di Indonesia ini memperluas jangkauan tri dharma perguruan tinggi ke tingkat internasional dengan meluncurkan program pengabdian masyarakat (pengmas) lintas negara di Taiwan, 13–19 Mei 2026.
Langkah strategis yang menyasar tiga kota besar—Taipei, Kaohsiung, dan Taichung—ini tidak hanya menjadi bukti nyata kontribusi sosial kemanusiaan global, tetapi juga menjadi instrumen penting dalam memperkuat rekognisi UI di kancah internasional. Aktivitas ini sekaligus menegaskan komitmen universitas dalam memperkokoh reputasi akademik serta membangun jejaring global yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat di luar batas negara.
Tim pengmas internasional yang diketuai oleh Dr. Tuti Afriani, S.Kp., M.Kep. ini membawa misi krusial: menginisiasi pembentukan Migrant Center dan melakukan intervensi klinis guna menekan angka kematian serta gangguan kesehatan mental pekerja migran Indonesia (PMI) di Taiwan yang kian mengkhawatirkan.
Delegasi FIK UI yang bertolak ke Taiwan mengombinasikan kepakaran lintas disiplin. Tim beranggotakan Yossie Susanti Eka Putri, S.Kp., M.N., Ph.D. (Pakar Keperawatan Jiwa), Ns. Baskoro Abdiansyah, S.Kep. (Kandidat Magister Manajemen Keperawatan), serta dua akademisi program doktor (S-3), Ns. Wirda Dulahu, S.Kep., M.Kep. dan Ns. Yuniar Mansye Soeli.
Dalam kunjungan diplomatik-akademik ke Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei, tim FIK UI disambut langsung oleh Kepala KDEI, Arif Sulistiyo. “Banyak permasalahan kesehatan yang menyebabkan kematian PMI tidak terdeteksi sebelumnya. Kami sangat mendukung penuh inisiasi Migrant Center dari UI ini,” ujar Arif.
Data terkini KDEI mengungkap sisi kelam di lapangan. Sepanjang tahun 2025, tercatat 130 jenazah PMI harus dipulangkan ke tanah air akibat komplikasi penyakit kronis seperti kanker, jantung, dan pecah pembuluh darah otak yang terlambat dimitigasi. Selain fisik, tekanan psikologis yang berujung fatal juga meningkat tajam. Tercatat ada 5 kasus bunuh diri pada 2025, dan tren memprihatinkan ini terus berlanjut dengan 2 kasus baru hingga pertengahan Mei 2026. Kerentanan ini bahkan kini mulai meluas ke anak-anak dan bayi dari keluarga pekerja migran.
Aksi nyata FIK UI di Taiwan menjadi bukti nyata bagaimana riset keperawatan dihilirisasi langsung untuk memecahkan problem kemanusiaan di level regional. Ketua Tim Pengmas, Dr. Tuti Afriani, menegaskan bahwa pembentukan Migrant Center dirancang sebagai model pelayanan kesehatan terintegrasi berbasis komunitas (community-based care) yang berkelanjutan.
“Sinergi internasional antara fungsi diplomasi pemerintah, kepakaran akademik UI, dan komunitas di hilir akan menjadi formula kuat untuk membangun sistem deteksi dini kesehatan pekerja migran secara jangka panjang,” kata Tuti.
Pihak KDEI berharap program pengmas internasional FIK UI ini bertransformasi menjadi agenda tahunan yang tersinkronisasi dengan program kerja taktis pemerintah, sehingga proteksi kesehatan dapat merata di seluruh wilayah Taiwan.