Di tengah tantangan kesehatan global yang kian kompleks, Universitas Indonesia (UI) kembali mengukuhkan salah satu pakar terbaiknya. Pada Rabu, 1 April 2026, Prof. Dessie Wanda, S.Kp., M.N., Ph.D. resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap dalam Bidang Ilmu Penyakit Infeksi pada Anak di Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK) UI.
Dalam pidato pengukuhannya yang berjudul “Penyakit Infeksi pada Anak dari Perspektif Leininger: Pertimbangan Keperawatan ‘dari Hulu ke Hilir’”, Prof. Dessie menyoroti urgensi penanganan penyakit infeksi yang masih menjadi penyebab kematian tertinggi pada anak, baik di Indonesia maupun dunia.
Prof. Dessie memaparkan data yang cukup mengkhawatirkan. Merujuk pada Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2020-2024, terjadi peningkatan tren kasus pneumonia, diare, tuberkulosis, dan HIV pada anak-anak Indonesia. Bahkan, kasus pneumonia meningkat tajam hampir dua kali lipat pada tahun 2024 dibandingkan tahun sebelumnya.
“Sistem imun anak masih dalam proses maturasi, menjadikannya kelompok yang sangat rentan,” ungkap Prof. Dessie dalam pidatonya. Beliau juga menekankan bahwa faktor eksternal seperti perubahan iklim, karakteristik sosiokultural, dan perilaku manusia, serta penurunan cakupan imunisasi akibat pandemi COVID-19 turut memperburuk situasi ini.
Hal yang menarik dari pemikiran Prof. Dessie adalah keberaniannya mengintegrasikan ilmu keperawatan modern dengan Culture Care Theory dari Madeleine Leininger. Baginya, pengobatan anak tidak bisa dilepaskan dari konteks budaya keluarga.
Beliau mencontohkan berbagai kasus nyata di Indonesia, mulai dari kepercayaan masyarakat Badui Dalam terhadap teknologi medis hingga tradisi Sei (pengasapan ibu dan bayi baru lahir) di Nusa Tenggara Timur.
“Tindakan keperawatan tidak selalu harus mengubah total budaya pasien. Terkadang kita harus melakukan akomodasi atau negosiasi agar asuhan tetap berjalan tanpa melanggar prinsip budaya yang dianut keluarga,” jelasnya.
Lahir di Bengkalis pada tahun 1973, perjalanan akademik Prof. Dessie membentang hingga ke Australia, tempat ia meraih gelar Master dan Doktor. Di tingkat nasional, kontribusinya tidak main-main. Ia telah menghasilkan puluhan artikel yang dipublikasikan di jurnal nasional dan internasional, serta produk Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), mulai dari aplikasi deteksi dini malnutrisi hingga buku edukasi kesehatan anak.
Pengukuhan ini bukan sekadar gelar akademik tertinggi, melainkan babak baru bagi Prof. Dessie untuk terus mengabdi. Ia menutup pidatonya dengan harapan agar ilmu yang ia tekuni dapat memberikan manfaat nyata, memastikan anak-anak Indonesia terhindar dari penyakit infeksi dan dapat tumbuh sehat di tengah keberagaman budaya yang ada.