Deru mesin kapal yang bising dan ayunan ombak Selat Taiwan telah menjadi menu sehari-hari bagi ratusan Anak Buah Kapal (ABK) migran di Pelabuhan Zhengbin dan Pelabuhan Wanli, Taiwan Utara. Di balik sumbangsih besar mereka terhadap industri perikanan, tersimpan cerita tentang jam kerja yang panjang, ruang tidur yang sempit di lambung kapal, dan kerentanan kesehatan yang kerap terabaikan.
Menyadari situasi pelik tersebut, tim Pengabdian Masyarakat (Pengmas) dari Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) bergerak ke episentrum aktivitas para pelaut migran ini. Menggandeng Keelung Migrant Fishermen’s Union (KMFU) serta aktivis lokal, mereka menggelar pos pemeriksaan kesehatan gratis tepat di kawasan pelabuhan.
Sebanyak 45 pekerja migran berkumpul hari itu. Mayoritas adalah Pekerja Migran Indonesia (PMI) dan ABK asal Filipina serta Vietnam. Wajah-wajah lelah yang biasanya terkunci oleh rutinitas melaut, siang itu tampak bergantian memeriksa tekanan darah, menimbang berat badan, berkonsultasi mengenai gizi, hingga mencurahkan beban pikiran lewat skrining kesehatan mental.
Hasil pemeriksaan ini justru menyingkap tabir risiko kesehatan yang mengintai para pelaut. Tim menemukan sedikitnya lima ABK mengalami hipertensi berat dengan tekanan darah menyentuh angka 150 hingga 170 mmHg. Angka ini sudah menjadi alarm bahaya, apalagi bagi mereka yang harus bertaruh nyawa di tengah laut lepas.
“Kondisi fisik yang drop ini salah satunya dipicu oleh pola makan yang tidak teratur, waktu istirahat yang sangat minim, dan beban kerja yang tinggi selama kapal berlayar,” ujar Dr. Tuti Afriani, S.Kp., M.Kep., Ketua Pengmas.
Tantangan terbesar bagi para ABK bukan hanya badai di laut, melainkan lingkungan tempat tinggal mereka sehari-hari. Sebagian besar dari mereka terpaksa tidur di dalam kapal dengan paparan suara bising mesin yang konstan. Istirahat yang tidak berkualitas ini bertumpuk dengan minimnya ruang untuk beraktivitas fisik, menciptakan bom waktu bagi kesehatan kardiovaskular mereka.
Selain kesehatan fisik yang digerogoti, aspek psikologis para pekerja migran ternyata tidak kalah memprihatinkan. Dari hasil skrining kesehatan mental, tim FIK UI mengidentifikasi beberapa ABK mengalami tekanan mental yang cukup berat. Jauh dari keluarga, keterbatasan bahasa, serta tekanan kerja di bawah bayang-bayang bahaya keselamatan kerja menjadi beban psikis yang tak kasatmata. Mereka membutuhkan tindak lanjut dan pendampingan psikologis yang berkelanjutan.
Dr. Tuti Afriani menekankan bahwa pengabdian masyarakat internasional ini dirancang bukan sekadar untuk mengobati, melainkan membangun benteng pertahanan pertama lewat pendekatan promotif dan preventif.
“Kami ingin meningkatkan deteksi dini dan kesadaran para pekerja migran bahwa kesehatan fisik dan mental adalah aset utama mereka. Melalui pendekatan berbasis komunitas seperti ini, mereka tidak merasa berjuang sendirian,” kata Tuti.
Saat matahari mulai turun di ufuk Pelabuhan Zhengbin, pemeriksaan berakhir. Namun, bagi para ABK, perjuangan berdamai dengan ombak, bising mesin, dan tensi darah yang tinggi masih harus berlanjut. Setidaknya, kehadiran tim dari FIK UI hari itu memberikan mereka satu hal yang mahal di perantauan: rasa kepedulian yang nyata.