Anak-anak yang hidup dengan Penyakit Ginjal Kronis (PGK) dan harus menjalani prosedur hemodialisis atau cuci darah menghadapi realitas hidup yang sangat menantang. Selain keharusan mengunjungi rumah sakit secara rutin dua hingga tiga kali seminggu, mereka kerap didera kelelahan kronis, gangguan pertumbuhan, hingga tekanan psikologis yang mendalam seperti kecemasan dan penurunan rasa percaya diri. Kondisi inilah yang mendorong Amelia Arnis, seorang Doktor dari Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI), untuk melahirkan sebuah solusi inovatif melalui disertasinya yang berfokus pada pengembangan model pemantauan pasien jarak jauh berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) guna meningkatkan kualitas hidup anak-anak tersebut.
Amelia melihat adanya celah besar dalam sistem perawatan saat ini, di mana pemantauan kesehatan anak penyandang gagal ginjal masih sangat berpusat di lingkungan rumah sakit atau pada fase intradialisis saja. Padahal, risiko komplikasi yang mengancam jiwa, seperti kelebihan cairan yang ekstrem dan gangguan tekanan darah, justru sering kali terjadi saat anak berada di rumah, tepatnya pada periode antar-sesi cuci darah. Dalam ringkasan disertasinya, Amelia menekankan bahwa selama ini belum ada sistem pemantauan kondisi anak di rumah yang dilakukan secara sistematis, sehingga komunikasi antara keluarga dan tenaga kesehatan cenderung terbatas hanya pada saat kunjungan fisik ke rumah sakit.
Menjawab tantangan tersebut, Amelia mengembangkan model intervensi digital yang diberi nama PANDA (Pediatric AI-based Nursing Digital Assistant). Model ini merupakan sebuah asisten digital cerdas yang mengintegrasikan teknologi Remote Patient Monitoring (RPM) dengan Kecerdasan Buatan. Di dalamnya terdapat fitur PANDAbot, sebuah chatbot pintar yang mampu memberikan respons cepat, edukasi kesehatan, hingga dukungan psikososial yang disesuaikan dengan usia anak. Selain itu, terdapat Digital Health Log sebagai sarana bagi anak dan orang tua untuk mencatat kondisi klinis harian secara terstruktur agar deteksi dini terhadap perubahan kondisi kesehatan dapat dilakukan lebih efektif, serta modul edukasi digital berbasis micro-learning untuk memperkuat kemandirian keluarga dalam perawatan mandiri.
Hasil dari penerapan inovasi ini membawa harapan baru bagi dunia keperawatan anak di Indonesia. Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap anak-anak usia 8 hingga 18 tahun, penggunaan aplikasi PANDA terbukti memberikan dampak positif yang signifikan terhadap peningkatan kualitas hidup mereka. Interaksi rutin dengan PANDAbot tidak hanya membantu memantau kondisi fisik, tetapi juga secara efektif menurunkan tingkat kecemasan anak karena mereka merasa senantiasa didampingi. Inovasi ini menjadi bukti nyata bahwa integrasi teknologi digital yang cerdas dan humanis dapat menjadi solusi konkret dalam menjawab permasalahan kesehatan yang kompleks di tengah masyarakat.
Keberhasilan Amelia Arnis dalam mempertahankan disertasinya pada Sidang Promosi Doktor di Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia pada 20 April 2026 menjadi bukti nyata peran akademisi dalam menghadirkan solusi konkret bagi masalah kesehatan masyarakat. Di bawah bimbingan promotor Prof. Yeni Rustina, S.Kp., M.App.Sc., Ph.D., serta Ko-promotor Dr. Allenidekania, S.Kp., M.Sc., dan Fariz Darari, Ph.D., inovasi PANDA ini dinilai sebagai langkah revolusioner dalam mendigitalisasi asuhan keperawatan anak. Hal ini menegaskan bahwa integrasi teknologi kecerdasan buatan bukan lagi sekadar wacana, melainkan kebutuhan mendesak untuk meningkatkan kemandirian keluarga dan kualitas hidup pasien kronis. Melalui gelar doktor yang diraihnya, Amelia berharap model pemantauan jarak jauh ini dapat diimplementasikan secara luas di berbagai rumah sakit, sehingga setiap anak yang menjalani hemodialisis di Indonesia bisa mendapatkan pendampingan yang optimal, aman, dan berkelanjutan meski sedang berada di rumah.