Ruang kuliah Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) sore itu riuh oleh riak diskusi yang tak biasa. Menjadi mahasiswa laki-laki di fakultas ini bukan lagi sekadar menuntaskan kewajiban akademis, melainkan sebuah perjalanan tentang keberanian untuk terus bertumbuh, mengambil peran-peran strategis, dan menempa diri menjadi sosok yang mampu membawa pengaruh positif bagi lingkungan sekitar. Semangat untuk mendobrak batas dan mempersiapkan diri menjadi penentu arah masa depan itulah yang mengalir kencang dalam diskusi di Gedung Pascasarjana FIK UI, Kampus Depok, Jumat (22/5/2026).
Dalam forum bertajuk ”Co-Ners Talk: Out of the Cell, Rise of Future Leaders” yang diinisiasi oleh FPPI FIK UI, mahasiswa laki-laki FIK UI berkumpul. Mereka tidak hanya berbicara tentang teori asuhan keperawatan, melainkan tentang sebuah kegelisahan kolektif: bagaimana keluar dari “zona nyaman” dan berani mengambil tongkat estafet kepemimpinan di ruang-ruang strategis.
Hadir sebagai pemantik inspirasi adalah Wakil Rektor Bidang Infrastruktur dan Fasilitas UI, Prof. Agus Setiawan, S.Kp., M.N., D.N. Sebagai salah satu figur lelaki yang sukses menapaki puncak karier akademis dan struktural berlatar belakang ilmu keperawatan, kehadiran Prof. Iwan menjadi cermin bagi para mahasiswa. Bahwa profesi ini bukan sekadar pelengkap, melainkan jalan ninja menuju kepemimpinan global.
Melalui sesi berbagi (sharing session) ini, para calon perawat muda ini diajak untuk melihat melampaui dinding-dinding bangsal rumah sakit. Tantangan dunia kesehatan masa depan membutuhkan pemimpin yang adaptif, tangguh, dan mampu mengeksekusi kebijakan taktis—kualitas yang sejatinya tertanam dalam diri setiap mahasiswa, tanpa memandang gender.
Diskusi yang berlangsung interaktif dari pukul 15.30 hingga menjelang petang itu menjadi wadah katarsis. Di Ruang 405-406, mereka membedah strategi bagaimana mengikis stigma negatif masyarakat terhadap perawat laki-laki, sekaligus membangun rasa percaya diri untuk memimpin organisasi, baik di dalam maupun di luar lingkungan makro kampus.
Dunia keperawatan modern hari ini membutuhkan sentuhan kepemimpinan yang inklusif. Ketika para mahasiswa laki-laki ini berani melangkah keluar, mengambil peran strategis, dan menyuarakan gagasan, mereka sedang membentuk ulang cetak biru (blueprint) masa depan pelayanan kesehatan di Indonesia.