Mahasiswa Universitas Indonesia (UI) menginisiasi program Rural Digital Innovation Lab (RDIL) di Desa Pempatan, Karangasem, Bali. Program ini membawa terobosan dengan mengintegrasikan inovasi teknologi digital ke dalam kerangka kerja keperawatan komunitas dan kesehatan masyarakat guna meningkatkan kesejahteraan desa secara holistik.
Program yang menjadi bagian dari ajang KPP Mining Youth in Action ini melibatkan 22 pemuda desa. Fokus utamanya bukan sekadar penguasaan teknis digital, melainkan transformasi pemuda sebagai subjek aktif yang mampu meningkatkan derajat kesehatan dan kemandirian sosial-ekonomi komunitasnya.
Inovasi menonjol dalam program ini terletak pada penerapan prinsip keperawatan komunitas yang diadopsi dari perspektif Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK) UI. Berbeda dengan pendekatan teknis biasa, RDIL menempatkan literasi digital sebagai instrumen promosi kesehatan dan pencegahan masalah sosial.
Dosen FIK UI, Dr. Sigit Mulyono, S.Kp., M.N., menjelaskan bahwa pemberdayaan berbasis teknologi merupakan pintu masuk untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat secara menyeluruh.
“Ketika pemuda memiliki keterampilan, kepercayaan diri, dan peluang ekonomi, hal itu berdampak langsung pada kesehatan mental dan sosial mereka. Ini adalah bentuk upaya promotif dan preventif dalam menjaga kesehatan masyarakat dari aspek fisik hingga ekonomi,” ujar Sigit.
Kolaborasi lintas disiplin ini diketuai oleh I Made Dyanta Anwar (FIK UI), dengan melibatkan Reztika Cahyani (FIK UI) dan Paramitha (Fakultas Teknik UI). Sinergi ini menggabungkan pengembangan ekonomi lokal dengan penguatan kesehatan mental dan sosial melalui literasi kesehatan yang inklusif.
Di lapangan, tim RDIL menemukan adanya kesenjangan antara potensi ekonomi lokal Desa Pempatan dengan keterampilan digital pemuda setempat. Banyak pelaku UMKM lokal masih mengelola promosi dan administrasi secara terbatas, sementara para pemuda belum memiliki pengalaman terarah untuk mengoptimalkan platform digital.
Program RDIL dirancang melalui tiga tahapan sistematis yang dimulai dengan Bootcamp Digital, yaitu fase pembekalan dasar untuk mengasah keterampilan teknis para peserta di bidang digital. Tahap ini kemudian dilanjutkan dengan Client-Based Project, di mana para pemuda desa terjun langsung melakukan praktik pendampingan terhadap UMKM lokal yang berperan sebagai klien nyata. Sebagai puncaknya, program ditutup dengan tahap Income Activation yang difokuskan pada penyusunan portofolio profesional serta aktivasi pendapatan awal melalui penyediaan jasa digital sederhana bagi komunitas.
Ketua tim RDIL, I Made Dyanta Anwar, menekankan pentingnya pembelajaran kontekstual. “Kami ingin peserta melihat bahwa keterampilan digital bisa memperkuat peran mereka sebagai agen perubahan di komunitasnya, sekaligus membuka peluang pendapatan langsung dari desa,” tuturnya.
Data awal menunjukkan antusiasme tinggi dengan skor pre-test peserta mencapai rata-rata 94 persen. Meski demikian, aspek kepercayaan diri menjadi catatan penting dalam pendampingan. Dalam kacamata keperawatan, kepercayaan diri berkorelasi erat dengan kesehatan mental dan kemampuan komunikasi interpersonal yang menjadi modal sosial warga desa.
Program ini didukung oleh berbagai mitra, termasuk Rumah Edukasi Kelas Belajar Merah Putih dan mentor dari berbagai bidang mulai dari kewirausahaan hingga psikologi. Sebagai ujung tombak komunikasi, tim Media & Communication Volunteer yang terdiri dari mahasiswa sarjana keperawatan UI turut mengawal jalannya diseminasi informasi program.
RDIL dijadwalkan berlangsung hingga akhir Mei 2026 dan akan ditutup dengan Mini Expo sebagai ruang presentasi hasil kolaborasi pemuda dengan UMKM. Melalui inisiatif ini, diharapkan terbentuk ekosistem layanan digital berbasis komunitas yang mandiri, di mana kesehatan masyarakat tidak hanya dipandang dari bebasnya penyakit, tetapi juga dari kesejahteraan sosial dan kesiapan ekonomi di era digital.