Detak Jiwa: Inovasi Digital Mahasiswa FIK UI untuk Tekan Angka Kekambuhan ODGJ di Klaten

Diposting di:

5 Mei 2026

Masalah kesehatan jiwa berbasis komunitas mendapat angin segar melalui sentuhan teknologi digital. Tim mahasiswa Praktik Residensi Spesialis Keperawatan Jiwa dari Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) resmi meluncurkan aplikasi “Detak Jiwa” di Puskesmas Wedi, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Kamis (30/4/2026).

Inovasi ini hadir sebagai solusi konkret dalam deteksi dini tanda dan gejala kekambuhan pada Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Langkah ini sekaligus memperkuat sistem layanan kesehatan jiwa di tingkat akar rumput dengan melibatkan peran aktif masyarakat.

Aplikasi Detak Jiwa lahir dari tangan dingin empat inovator yang tengah menempuh pendidikan spesialis di Universitas Indonesia, yakni Ns. Rista Islamarida, S.Kep., M.Kep., Ns. Agus Haryanto Widagdo, S.Kep., M.Kep., Ns. Yafi Sabila Rosyad, S.Kep., M.Kep., Ph.D., dan Ns. Maelia Unayah, S.Kep., M.Kep. Pengembangan inovasi ini juga mendapat bimbingan intensif dari Dr. Ns. Retno Yuli Hastuti, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.J., selaku pembimbing klinik yang juga merupakan alumnus FIK UI. Bersama-sama, mereka mengintegrasikan latar belakang akademis dan pengalaman klinis untuk menciptakan solusi digital yang mampu menjawab tantangan penanganan kesehatan jiwa di masyarakat.

Rista Islamarida menjelaskan bahwa kehadiran aplikasi ini diharapkan menjadi model pelayanan kesehatan jiwa masa depan yang mengedepankan teknologi dan pemberdayaan masyarakat. “Launching ini adalah langkah awal. Kami berharap sistem ini bisa direplikasi di wilayah lain sebagai standar baru layanan kesehatan jiwa berbasis komunitas,” ujarnya.

Bukan sekadar alat pelaporan biasa, Agus Haryanto Widagdo memaparkan bahwa aplikasi Detak Jiwa bekerja secara komprehensif melalui tiga aspek utama, yakni identifikasi gejala untuk mendeteksi perubahan perilaku yang mengarah pada kekambuhan, penilaian kemandirian pasien dalam melakukan perawatan diri sehari-hari, serta evaluasi sejauh mana keluarga mampu memberikan dukungan dan perawatan yang tepat.

“Data hasil skrining yang dilakukan kader di tingkat desa secara otomatis terintegrasi dan dilaporkan langsung kepada Penanggung Jawab Program Jiwa di Puskesmas. Ini memudahkan intervensi cepat sebelum kondisi pasien memburuk,” kata Agus.

Implementasi aplikasi ini menempatkan kader kesehatan jiwa sebagai aktor kunci. Kehadiran perwakilan dari berbagai desa seperti Desa Sembung, Sukorejo, Blirit, dan Trotok dalam peluncuran ini menegaskan komitmen pemerintah desa dalam mendukung keberhasilan program.

Prof. Achir Yani Syuhaimie Hamid, MN., DNSc., Guru Besar FIK UI, menekankan bahwa inovasi ini adalah bukti nyata sinergi antara institusi pendidikan dan layanan kesehatan di lapangan. Menurutnya, peran kader sebagai garda terdepan kini semakin kuat dengan dukungan sistem rujukan yang lebih optimal.

Senada dengan hal tersebut, Pipit Danar Saputro dari Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten memberikan apresiasi tinggi. Ia berharap aplikasi ini tidak hanya berhenti di Puskesmas Wedi, tetapi dapat diimplementasikan secara luas di seluruh Kabupaten Klaten untuk menjawab tantangan kesehatan mental di masyarakat.

Acara peluncuran tersebut diakhiri dengan penandatanganan Berita Acara dan SK Inovasi oleh pihak Dinas Kesehatan, Puskesmas, akademisi UI, serta para kepala desa setempat, menandai dimulainya era baru pemantauan kesehatan jiwa digital di Klaten.

Bagikan artikel ini:

id_ID